Raflis

Menuju Masa Depan Yang Lebih Baik

RINGKASAN LAPORAN PENILAIAN KAWASAN DENGAN NILAI KONSERVASI TINGGI DI SEMENANJUNG KAMPAR

Posted by raflis on May 14, 2010

RINGKASAN LAPORAN PENILAIAN KAWASAN DENGAN NILAI KONSERVASI TINGGI DI SEMENANJUNG KAMPAR UNTUK KONSULTASI PUBLIK BOGOR BOTANICAL SQUARE, 6 MEI 2010
I. PENDAHULUAN

Salah satu tipe formasi hutan yang unik adalah ekosistem hutan lahan gambut (peat forest) dan rawa gambut (peat swamp forest). Lahan gambut sendiri terletak di belakang tanggul sungai. Lahan gambut memiliki tanah alluvial (Entisols) dan tanah organik (Histosol) yang dikenal sebagai tanah gambut. Daerah rawa bergambut ini umumnya berada pada lokasi yang relatif datar dan terletak di antara dua sungai besar. Keunikan dari tipe ekosistem hutan gambut ini adalah keberadaan tumbuhan gambut yang membentuk kubah (dome) yang memiliki beda ketinggian dari permukaan lahan gambut. Berdasarkan Mulyanto dan Nuryanti (2002), perbedaan elevasi antara pinggir sungai dan posisi tengah antara dua sungai akan membentuk kubah. Sehingga dengan adanya perbedaan ketinggian ini maka air bergerak dari puncak kubah ke arah pinggir sungai. Dengan demikian, daerah yang berada antara dua sungai dapat dipertimbangkan sebagai suatu unit ‘pulau “ dengan karakteritik yang khas.
Semenanjung Kampar memiliki ekosistem hutan gambut yang berada diantara 2 (dua) sungai besar yaitu Sungai Siak dan Sungai Kampar, sehingga dapat dipastikan bahwa areal tersebut merupakan kubah gambut yang sangat luas, walaupun sampai saat ini belum ada kajian yang komprehensif di areal tersebut. Menurut Mulyanto dan Nurhayati (2002), dengan kenaikan elevasi yang semakin jauh dari pinggiran sungai menyebabkan gambut semakin tebal. Dengan demikian terbentuk gundukan atau kubah yang biasanya berada di bagian puncak dari kubah. Secara ekologis, areal ini memiliki karakteristik spesifik yang menggambarkan hubungan antar komponen lingkungan fisik dan hayati.

Proses pembentukan kubah gambut berkorelasi dengan karakteristik tanah dan vegetasi hutan. Pembentukan kubah ini merupakan ciri khas dari lahan gambut yang ada di Indonesia. Bentuk ini memiliki karakteristik sirkulasi air dari puncak kubah ke arah kaki-kaki kubah yang pada umumnya merupakan areal yang dikelola oleh unit manajemen baik perkebunan, IUPHHK-HA dan IUPHHK-HT. Kubah gambut dicirikan oleh kemampuannya dalam menyimpan air dalam jumlah besar. Dengan demikian maka puncak kubah gambut memegang peranan vital untuk menjaga keberlangsungan peredaran air pada eksositem lahan gambut dan kondisi alamiah dari kubah harus dilindungi agar tidak rusak. Sehubungan dengan itu, maka pengelolaan lahan gambut harus senantiasa berbasis pada bentang alam, hal ini dikarenakan areal puncak kubah sampai dengan kaki-kaki kubah tersebut merupakan satu unit ekosistem, yang juga harus dikelola dalam satu kesatuan unit pengelolaan. Dalam pengelolaannya bentuk kubah dipakai sebagai dasar untuk mengatur tataruang penggunaan lahan gambut tersebut.

Semenanjung Kampar merupakan salah satu ekosistem hutan rawa gambut terluas yang tersisa di Sumatera. Ekosistem Semenanjung Kampar (ESK) merupakan kesatuan ekosistem rawa gambut yang memiliki dua kubah gambut (peat dome) sebagai daerah intinya dengan kedalaman sekitar 16 meter. Kubah gambut tersebut mempunyai peranan yang penting bagi kelestarian tata air di wilayah ESK dan sebagai penyimpan karbon dalam jumlah yang sangat besar (Greenpeace, 2009: 200 Giga ton Karbon).

ESK merupakan salah satu area kunci bagi keanekaragaman hayati gambut (Key Biodiversity Area, CI 2007), area penting bagi burung (Important Bird Area-IBA, Birdlife, 2003) dan tempat penyimpanan karbon yang sangat besar yang secara potensial dapat memberikan manfaat bagi pemerintah, masyarakat lokal, perusahaan dan para pihak lainnya.

Penilaian penuh (full assessment) hutan bernilai konservasi tinggi (HNKT) di Semenanjung Kampar merupakan tindak lanjut dari rekomendasi kegiatan PT. RAPPid Risk Assessment yang telah dilakukan oleh tim independen yang dikoordinasikan oleh Tropenbos International Indonesia Programme (TBI Indonesia) di Resort Teluk Meranti dan Tasik Belat, Unit Manajemen Hutan PT. PT. RAPP. Salah satu hasil penilaian yang ingin dicapai adalah bagaimana pengelolaan hutan tanaman di areal Kampar Ring oleh PT. PT. RAPP mampu memberikan kontribusi efektif bagi fungsi-fungsi konservasi dan sosial di pengelolalan Semenanjung Kampar tingkat Bentang alam. Penilaian penuh tersebut juga diharapkan akan mendorong inisiatif yang lebih besar dalam penyelamatan ekosistem hutan rawa gambut di Semenanjung Kampar dengan menggunakan pendekatan pengelolaan tata air secara menyeluruh dan terintegrasi, sebagai dasar dalam pengelolaan kolaborasi Semenanjung Kampar bagi kepentingan pembangunan wilayah yang berkelanjutan. Penilaian penuh ini dilakukan atas kerjasama dan sharing pendanaan antara Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, TBI Indonesia dan PT. PT. RAPP. Dalam pelaksanaannya, kegiatan tersebut melibatkan banyak pihak dari berbagai instansi, baik dari TBI Indonesia, Badan Litbang Kehutanan, Lembaga Biologi-LIPI, LSM, dan beberapa perguruan tinggi (IPB, UNRI, UGM dan UNLAM).

Tujuan penilaian HNKT di Semenanjung Kampar adalah:
1 Mengidentifikasi dan menetapkan secara tepat hutan bernilai konservasi tinggi di seluruh Semenanjung Kampar termasuk pengelolaan dan pemantauannya.
2 Mengidentifikasi dan menetapkan secara tepat hutan bernilai konservasi tinggi di areal Unit Manajemen PT PT. RAPP, yakni di Resort Teluk Meranti dan Resort Tasik Belat, termasuk pengelolaan dan pemantauannya.
3 Mengembangkan potensi pemanfaatan sumberdaya alam di Semenanjung Kampar secara lestari, baik berbasis barang maupun jasa.
4 Mengembangkan pengelolaan Semenanjung Kampar secara kolaboratif berbasis pengelolaan ekosistem hutan gambut pada skala bentang alam secara lestari.

II. HASIL PENILAIAN HNKT

Berdasarkan hasil penilaian, hampir seluruh wilayah Semenanjung Kampar memiliki hutan yang bernilai konservasi tinggi, hanya HNKT 6 yang tidak terdapat di kawasan tesebut. Hasil overlay peta-peta NKT 1 s/d NKT 5 menunjukkan bahwa atribut NKT di Semenanjung Kampar tumpang tindih satu sama hingga 9 atribut NKT (lihat Peta Lampiran 3). Fakta tentang atribut NKT di Semenanjung Kampar menunjukkan bahwa pembangunan hutan tanaman di kawasan tersebut merupakan pendekatan “trade off” yang mengorbankan beberapa atribut NKT guna mendapatkan keuntungan finansial bagi pembangunan wilayah secara berkelanjutan. Mengingat kerentanan ekosistem hutan gambut, pendekatan “trade off” harus didukung dengan penerapan teknologi pengelolaan air yang dapat dipertanggung-gugatkan secara ilmiah kepada publik, bila tidak, dalam jangka panjang akan menimbulkan dampak lingkungan yang tidak terkendali dan menimbulkan resiko kerugian finansial bagi para pelaku pembangunan dan negara.

Hasil penilain HNKT menunjukkan bahwa kedalaman gambut di Semenanjung Kampar sebagian besar lebih dari 3 m, sehingga pengelolaan daerah yang saat ini telah dialokasikan menjadi hutan tanaman harus mempertimbangkan secara sangat serius terhadap kelestarian tata air, khususnya di daerah hulu sungai dan rawa sebagaimana ditetapkan dalam kriteria kawasan lindung gambut menurut Keputusan Presiden no. 32 Tahun 1990 dan PP 26 Tahun 2008. Penerapan Eco-hydro Buffer sebagaimana yang diterapkan PT. PT. RAPP, bagi seluruh pelaku pembangunan hutan tanaman, perkebunan dan tanmbang, merupakan keharusan yang tidak dapat ditawar lagi. Identifikasi kawasan lindung gambut yang mutlak harus dilindungi membutuhkan kajian ilmiah tersendiri sebagaimana disajikan pada Sub Bab 2.4.2.
Hasil penilaian HNKT juga menunjukkan bahwa pengelolaan ekosistem di Semenanjung Kampar harus dilakukan berdasarkan pendekatan holistik dan dalam satu kesatuan pengambilan keputusan pada tingkat perencanaan, monitoring dan evaluasinya, sedangkan implementasinya dapat dilakukan oleh masing-masing pelaku pembangunan dengan mengacu pada perencanaan keseluruhan yang telah disepakati. Pengelolaan kolaboratif ekosistem di Semenanjung Kampar merupakan keharusan mengingat bahwa Semenanjung Kampar merupakan kesatuan ekosistem hutan gambut dan banyaknya kepentingan di wilayah tersebut. Dalam konteks ini pengelolaan HNKT pada tingkat bentang alam diarahkan pada:
1 Perlindungan NKT 4.1. sebagai basis pengelolaan tata air di Semenanjung Kampar.
2 Perlindungan Sistem Penyangga Kehidupan dan Habitat bagi seluruh spesies indikator, sebagaimana diidentifikasi pada NKT 1.1., 1.2, 1.3., 1.4., 4.2. dan 4.3. pada seluruh ekosistem alam yang masih dapat dipertahankan.
3 Perlindungan habitat bagi spesies indikator pada NKT 1.4. pada seluruh hutan tanaman dan hutan alam yang masih dapat dipertahankan.
4 Perlindungan proses ekologi alami sebagaimana diidentifikasi pada NKT 2.1. yang mencakup kubah gambut yang masih belum terganggu.
5 Meminimalkan kehilangan NKT 3 yang masih utuh pada areal yang secara legal telah diberikan ijin untuk melakukan pembangunan hutan tanaman di Teluk Meranti dan Tasik Belat berdasarkan keperwakilan ekotipe yang ditemukan. Data penutupan lahan tahun 2009 menunjukkan bahwa sebagian besar ekotipe asli telah terdegradasi.
6 Mewujudkan alokasi NKT 5 sebagai tanggung jawab pemerintah dan seluruh aktor pembangunan di Semenanjung Kampar, diikuti dengan program pemberdayaan masyarakat yang dikawal para pihak secara ketat. Berbagai potensi sumberdaya alam sebagaimana disajikan pada Sub Bab 2.3. perlu dieksplorasi secara mendalam guna kepentingan program pemberdayaan tersebut.

Hasil penilaian HNKT di Semenanjung Kampar secara terinci disajikan pada matriks dan peta pada Lampiran 1 dan 2.

Berdasarkan hasil penilaian HNKT di Semenanjung Kampar dan verifikasi lapang, dapat diketahui bahwa di Resort Teluk Meranti dan Tasik Belat terdapat hampir seluruh atribut NKT, kecuali NKT 6. Namun demikian sebagian besar atribut NKT di kedua Resort tersebut, juga terwakili oleh atribut NKT di seluruh Semenanjung Kampar. Isu kritis yang membutuhkan pengelolaan secara spesifik oleh unit manajemen adalah terdapat atribut NKT 1.2. dan NKT 5. Untuk melindungi kawasan lindung gambut yang diidentifikasi pada HNKT tingkat bentang alam, penerapan eco-hydro buffer merupakan keharusan bagi Unit Manajemen. Penerapan eco-hydro buffer terbukti secara ilmiah mampu meminimalkan dampak negatid terhadap kawasan lindung gambut.

Khusus untuk NKT 1.2. terdapat bukti bahwa spesies indikator, yaitu: Harimau Sumatera, cukup mampu beradaptasi pada hutan tanaman. Hasil Penelitian Tim Independen di Serapung menunjukkan bahwa hutan tanaman dan perbatasannya dengan hutan alam digunakan secara intensif oleh Harimau Sumatera sebagai habitat yang memiliki preferensi tinggi dan diduga merupakan daerah konsentrasi mangsanya. Atribut NKT 5, memastikan bahwa alokasi ruang kelola masyarakat merupakan keharusan bagi Unit Manajemen. Dalam negosiasi dengan masyarakat untuk menetapkan ruang kelola tersebut, prinsip-prinsip padiatapa (FPIC) harus diadopsi oleh Unit Manajemen. Penetapan ruang kelola masyarakat perlu diikuti dengan komitmen kuat unit manajemen untuk menyediakan program pemberdayaan yang tepat agar terwujud kemandirian ekonomi masyarakat di Semenanjung Kampar. Berbagai potensi sumberdaya alam sebagaimana disajikan pada Sub Bab 2.3. perlu dieksplorasi secara mendalam guna kepentingan program pemberdayaan tersebut.
Hasil penilaian HNKT di Resort Teluk Meranti dan Tasik Belat secara terinci disajikan pada matriks dan peta pada Lampiran 4 dan 5.

Pemanfaatan sumberdaya alam di Semenanjung Kampar telah berjalan sejak lama dan dilakukan oleh berbagai pihak. Sejak 1980an, Kawasan Semenanjung Kampar telah dimanfaatkan oleh para pengusaha melalui ijin HPH sesuai dengan fungsi hutan yang ada. Pada akhir tahun 1980an, Pemerintah memberikan ijin pinjam pakai kawasan hutan untuk eksploitasi minyak bumi kepada PT Caltex Pacific Indonesia. Ijin pengusahaan hutan tanaman industri (sekarang IUPHHK-HT) dimulai pada awal 1990an dan ijin terakhir dikeluarkan oleh Pemerintah pada tahun 2009. Selain usaha tersebut, juga terdapat ijin pembangunan perkebunan sawit dan pemanfaatan lahan untuk usaha pertanian dan penangkapan ikan oleh masyarakat. Pada saat ini, terdapat lebih kurang 25 unit usaha yang bekerja di Semenanjung Kampar.
Selain manfaat di atas, Semenanjung Kampar memiliki potensi yang tinggi dari segi hasil hutan nir kayu, ekowisata dan jasa lingkungan. Beberapa potensi penting Semenanjung Kampar dideskripsikan secara ringkas sebagai berikut:
2.3.1. Potensi Kekayaan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dan Agro-Socio Forestry
2.3.1.1. Potensi Perikanan

Sejak awal keberadaannya, masyarakat Semenanjung Kampar memilki ketergantungan yang tinggi terhadap produk-produk perikanan sebagai sumber protein hewani dan sebagai produk yang diperdagangkan di pasar lokal. Setidaknya terdapat 47 spesies ikan yang telah dikenal sebagai ikan tangkapan masyarakat. Diantara spesies ikan yang telah dikenal masyarakat juga merupakan ikan konsumsi khas rawa yang dikenal luas dan diperdagangkan di restoranrestoran besar di kota-kota besar, baik di Riau maupun di luar Propinsi Riau, antara lain: Baung, Patin, Selais dan Toman. Ikan-ikan tersebut sangat potensial untuk dibudidayakan sebagai alternatif mata pencaharian masyarakat.

Selain itu, masyarakat juga telah mengenal ikan Arowana (Schlerophages formosus) sebagai ikan hias yang mahal harganya, namun saat ini dalam kondisi sulit ditemukan di alam. Mengingat letak Semenanjung Kampar yang berdekatan dengan Malaysia dan Singapura, introduksi budidaya Arowana kepada masyarakat akan menyediakan alternatif mata pencaharian yang menghasilkan nilai ekonomi sangat tinggi.

2.3.1.2. Sarang Burung Walet
Jika kita menyusuri sungai Kampar mulai dari Teluk Binjai sampai ke Kuala Kampar maka kita akan menjumpai gedung-gedung tinggi yang dindingnya terbuat dari kayu dan kadang dari tembok untuk di daerah perkotaan yang disebut sebagai Rumah Sarang Walet. Permintaan komoditas sarang walet sangat tinggi dan pusat perdagangannya paling dekat berada di Tanjung Batu, Kecamatan Kundur, Kabupaten Karimun. Dari tempat ini, sarang burung diekspor ke Singapura dan ke Hongkong. Ditempat ini harga sarang burung walet untuk kualitas terbaik bisa mencapai Rp. 20 juta per kg, walaupun disinyalir pola perdagangannya melalui “black market”. Pedagang atau perantara biasanya mendatangi langsung ke lokasi-lokasi produsen sarang burung dan perkilonya hanya dihargai Rp. 9-12 jt. Nilai ini jauh berbeda bila sarang burung bisa dikelola sendiri dan dijual langsung ke pusat perdagangan di Tanjung Batu yang jarak tempuhnya sekitar 5 jam menggunakan speedboat.
Masyarakat Teluk Meranti baru sekitar 5% yang sudah mulai mengembangkan sarang walet ini mengaku belajar dari masyarakat Pulau Muda sekitar 3 tahun lalu. Rumah sarang walet ini biasanya dimiliki oleh orang yang secara ekonomi cukup mapan, karena untuk membangun satu rumah perlu biaya sekitar Rp. 100 jt untuk ukuran 5x10x12 m. Biaya sebesar ini untuk komponen: Upah borongan tenaga kerja sekitar Rp. 25 jt, bahan baku kayu Rp. 17 jt dan sisanya untuk perangkat budidaya walet itu sendiri. Pemeliharaan rumah walet tidak terlalu sulit kecuali pada saat awal dengan memasang perangkap suara buatan dan membuat sumber makanan walet dari buah nanas yang mulai membusuk. Pemilik rumah sarang walet ini sebagian besar adalah orang yang tingkat ekonominya tinggi, bahkan di sekitar Penyalai (Kecamatan Kuala Kampar) pemilik Rumah Sarang Walet adalah para Tokai pendatang dari Tanjung Batu yang membeli lahan di lokasi itu dan melakukan investasi membangun rumahrumah sarang walet.

Masyarakat di desa Teluk Lanus dan Penyengat/ Tanjung Pal belum mengembangkan budidaya sranag burung walet ini. Mereka menganggap belum memiliki pengetahuan yang cukup dan kemampuan modal untuk membangun sarana penangkaran sarang burung walet.
Budidaya sarang burung walet menjadi opsi yang potensial untuk menggantikan pendapatan utama masyarakat semenanjung Kampar yang dahulu bergantung pada kayu. Hal ini dikarenakan hasil pendapatan yang diperoleh cukup besar dengan pengelolaan yang tidak membutuhkan waktu dan tenaga yang cukup banyak, sehingga sesuai dengan budaya masyarakat Kampar yang cenderung “malas”.

Alternatif Pengembangan Sarang Walet buat Masyarakat di Semenanjung Kampar:
a) Masyarakat bisa diberi modal pembiayaan pembangunan rumah sarang walet dan pembudidayaannya. Bisa dipadukan dengan system kelompok/arisan/koperasi yang sedemikian rupa sehingga disatu waktu semua anggota kelompok dapat memiliki rumah wallet sendiri. Investor juga bisa menerapkan sistem Profit Sharing atau mekanisme lain yang saling menguntungkan.
b) Rantai supply perdagangan sarang burung bisa dipersingkat atau langsung ke pusat perdagangan di Tanjung Batu yang bisa difasilitasi perusahaan atau pemerintah daerah.
c) Saat ini belum ada aturan daerah yang menetapkan pajak atau pungutan atas perdagangan sarang burung walet. Pemerintah Daerah bisa memungut pendapatan dari perdagangan komoditas ini melalui pajak dan dikembalikan lagi ke masyarakat dalam bentuk pembangunan wilayah pedesaan dan masyarakat miskin.
d) Perlu juga diatur melalui perda mengenai jarak lokasi sarang burung wallet dengan pemukiman penduduk. Mengingat keberadaan sarang burung wallet bisa berdampak pada kesehatan penduduk sekitar.
e) Perusahaan HTI bisa bekerjasama dengan masyarakat di desa Teluk Lanus dan Penyengat untuk mengembangkan sarang burung walet

2.3.1.3. Sagu dan Kelapa sebagai hasil Agro-Social forestry.
Penanaman Sagu dan Kelapa banyak dilakukan oleh masyarakat di Desa Teluk Lanus, Penyengat, dan Desa Teluk di Pulau Mendol (Penyalai). Tanaman sagu bisa dijumpai di daerahdaerah riparian dan kadang bercampur dengan tanaman Nipah. Masyarakat Akit di Tanjung Pal biasa menyebut sebagai Tanaman lorong, karena sagu tersebut ditanam diantara pohon-pohon nipah. Harga sagu per kilogramnya Rp. 1.500 di Selat Panjang. Potensi sagu cukup besar karena masyarakat juga menanmannya di luar areal desa mereka. Masyarakat Teluk Lanus bahkan menanam sagu, kelapa, dan karet di areal antara sungai Apung dan Sungai Lakar yang saat ini menghadapi persoalan dengan masyarakat Serapung yang mulai meng klaim tanahtanah mereka. Persoalan ini muncul akibat konflik perbatasan antara Kabupaten Pelelawan dan Kabupaten Siak dimana telah terjadi pergeseran garis batas wilayah administratif.

Sagu disukai untuk ditanam masyarakat karena penanaman sagu hanya dilakukan sekali saja. Pohon sagu mempunyai kemampuan menggandakan diri yang cukup pesat karena mampu berkembang biak secara vegetatif dan generative. Sekali tanam dalam 10 tahun hasil sagu sudah bisa dipanen. Seterusnya kelompok tumbuhan sagu dapat dipanen setiap tahun tanpa harus menanam lagi dan tanpa dilakukan pemeliharaan.

Disemenanjung Kampar ditemukan dua industri sagu yang cukup besar, yaitu di Desa Teluk (Penyalai) dan Tanjung Pal/Penyengat. Namun demikian ditemukan pula industri sagu skala rumah tangga. Beberapa kilang sagu yang ada menyatakan masih kekurangan bahan baku karena mereka harus men-supplay 100 ton sagu per bulan yang didistribusikan ke daerah Cirebon dan Medan. Selama ini hasil limbah sagu masih dibuang langsung ke Selat Panjang dan hanya sebagian kecil yang dimanfaatkan sebagai makanan ternak. Limbah sagu sebenarnya memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi Bio-ethanol, seprti yang dilakukan pada tanaman tebu. Sagu merupakan tanaman yang bisa dikembangkan sekaligus sebagai makanan dan energi (food and fuel). Apalagi harga bensin terutama di daerah Penyengat dan Teluk Lanus cukup mahal. Yaitu bisa berkisar Rp 6.500 per liter. Bensin banyak dipergunakan masyarakat untuk menjalankan kendaran roda dua mereka.

Potensi Kelapa juga sangat besar terutama di Penyalai, desa Teluk Lanus dan Penyengat. Pada tahun 90-an sebetulnya harga kelapa pernah sangat tinggi yaitu mencapai Rp. 2.600 per kg basah atau setara dengan 3 butir kelapa. Saat ini harga kelapa bulat turun drastis hanya Rp 300-400 per butir. Pedagang langsung datang sendiri dari Sungai Apit dan Selat Panjang. Kebanyakan masyarakat lokal malas mencungkil kelapa sehingga dijual bulat-bulat dengan harga yang murah untuk selanjutnya dibawa ke Malaysia oleh pedagang. Dampaknya industri minyak kelapa dulu di wilayah selat panjang ada sekitar 9 buah (termasuk sebuah pabrik milik Pemda di Penyalai). Ketika penelitian ini dilakukan tersisa satu buah pabrik di Kelurahan Teluk Dalam (Penyalai) dengan kondisi kembang kempis. Salah satu persoalan utamanya adalah persoalan supply bahan baku (daging kelapa). Selain itu masyarakat juga menghadapi hama tanaman Kelapa berupa Beruang (merah dan putih) yang sering terjadi di Teluk Lanus.

Minimnya sarana dan teknologi baru yang bisa meningkatkan nilai tambah (added value) terhadap kelapa dan hasil sagu terjadi di Penyalai, desa Teluk Lanus, Desa Teluk, dan Desa Penyengat. Kilang pengolahan kelapa tidak dijumpai di Teluk Lanus dan Penyengat, dan hanya ada di Desa Teluk Dalam, Penyalai. Masyarakat juga belum memiliki kecukupan modal untuk bisa mengolah komoditas-komoditas ini.
Alternatif Pengembangan Potensi Komoditas Sagu dan Kelapa produk Masyarakat:
a) Pemerintah atau pihak swasta bisa menjalankan program pengembangan usaha sagu dan kelapa yang dipusatkan di lokasi desa atau pusat perdagangan masyarakat lokal. Pendirian pabrik sagu dan pengolahan limbah sagu dari pabrik yang sudah ada menjadi bio-ethanol bisa dijadikan alternatif. Pengembangan produk derivatif dari Kelapa dapat dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah di tingkat lokal. Pengolahan coco-fiber (dari sabut), Carbon aktif/arang (dari tempurung) serta nata de coco (dari air) akan sekaligus dapat mendukung industry minyak kelapa yang sudah ada.
b) Mengembangkan program penguatan kapasitas masyarakat melalui pendampingan terhadap industri rumah tangga, pemasaran, dan kerajinan, serta meningkatkan nilai tambah suatu produk

2.3.1.4. Bio-etanol, Gula Nipah, dan hasil-hasil non kayu lain. Penduduk desa di Teluk Lanus, Penyengat, dan Desa Teluk rata-rata memiliki lahan dengan potensi pohon Nipah yang belum tergarap dan ternilai dengan baik. Penggunaan Nipah saat ini masih dilakukan sebatas pemanfaatan daun dan pohon untuk kayu bakar. Penebangan Nipah yang dilakukan secara terus-menerus tersebut dikawatirkan akan mendesak populasi Nipah dan berdampak pada tergerusnya wilayah daratan oleh aliran, ombak dan pasang surut. Nipah memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk gula Nipah dan bio- etanol. Pengembangan gula merah memiliki potensi tinggi, mengingat produk gula merah baik di desa Teluk Lanus dan Penyengat (dimana Nipah banyak ditemukan) masih didatangkan dari luar desa. Harga gula merah juga relatif mahal, di pasar setempat bisa mencapai Rp 12.000/kg. Sementara bio-ethanol digunakan sebagai pengganti bensin yang bisa bernilai ekonomi. Namun untuk pengolahan ini perlu intervensi teknologi dan modal kerja yang memadai. Pemanfaatan hasil Nira ini bisa berdampak positif mengurangi proses penebangan Nipah yang berdampak buruk terhadap lingkungan.

Hasil hutan non kayu lain yang cukup potensial terutama di Teluk Lanus adalah Babi Hutan. Potensi Babi Hutan ini cukup banyak sehingga mengganggu tanaman budidaya penduduk setempat. Kendalanya adalah karena penduduk Teluk Lanus sebagian besar muslim sehingga potensi Babi Hutan ini tidak dapat dimanfaatkan. Bertolak belakang dengan di Desa Penyengat dimana suku Akit berada. Babi Hutan malah semakin sulit ditemui karena sejak dulu suku Akit dikenal mempunyai mata pencaharian berburu Babi Hutan baik untuk kepentingan konsumsi maupun dijual. Alternatif Pengembangan Komoditas bio-etanol, gula Nipah dan produk ikutan lainnya:
a) Pemerintah atau pihak swasta bisa menjalankan program pengembangan usaha bio etanol gula nira, dan produk ikutan lainnya yang dipusatkan di lokasi desa atau pusat perdagangan masyarakat lokal melalui pendirian pabrik pengolahan Nira Nipah.
b) Perlu direlokasi beberapa masyarakat dari Tanjung Pal/Penyengat ke Teluk Lanus untuk mengolah potensi Babi Hutan yang ada. Hal ini dikarenakan isu mengenai Babi Hutan sangat sensitif menyangkut kepercayaan agama tertentu, sehingga perlu dibangun kesepakatan juga dengan masyarakat Teluk Lanus.
c) Mengembangkan program penguatan kapasitas masyarakat melalui pendampingan home industri, pemasaran, dan kerajinan, serta meningkatkan nilai tambah suatu
produk.

2.3.2. Potensi Ekowisata
Bentang Alam Semenanjung Kampar terbentuk oleh hamparan hutan gambut tropika yang diapit oleh dua sungai besar di Provinsi Riau, yaitu Sungai Siak disisi sebelah Utara dan Sungai Kampar disisi sebelah Selatan. Kedua sungai sangat berperan dalam perkembangan sosial, ekonomi dan budaya wilayah karena menjadi urat nadi perkembangan tatanan sosial dimana sehingga pernah tumbuh dan berkembang dua kesultanan besar, yaitu Kesultanan Siak Sri Indrapura yang teletak di tepi Sungai Siak dan Kesultanan Pelalawan yang terletak di tepi Sungai Kampar. Keberadaan dua kesultanan tersebut dimasa lalu, menyebabkan terjadinya hubungan yang cukup berkembang dengan dunia luar, tidak hanya di wilayah Asia tetapi juga sampai ke Eropa.

Berdasarkan pada sejarah dua kesultanan tersebut, saat ini banyak ditemui situs-situs budaya dan sejarah di sepanjang kedua wilayah sungai, baik berupa tapak bangunan-bangunan kesultanan, makam-makam para sultan/raja serta tokoh-tokoh lain yang berpengaruh pada masa itu serta lokasi-lokasi tempat berbagai peristiwa penting dalam perjalanan sejarah kedua kesultanan. Tapak-tapak tersebut saat ini tentunya menjadi aset daerah yang tinggi karena menjadi bukti sejarah bagi generasi kini dan mendatang. Bagi daerah, keberadaan situs-situs ini menjadi kebanggaan karena, oleh karena itu upaya-upaya pelestarian telah dilakukan oleh pemerintah, terutama pemerintah Kabupaten Siak dan Kabupaten Pelalawan serta mengembangkannya sebagai obyek dan daya tarik wisata unggulan daerah. Adapun beberapa situs sejarah di kedua kabupaten dapat dilihat pada Gambar 1 dan 2.

Perkembangan sosial di wilayah ini juga tidak terlepas dari kondisi kekayaan alamnya. Kekayaan sumberdaya mineral berupa minyak bumi dan keyaan sumberdaya hutan sangat mewarnai pertumbuhan pembangunan wilayah. Secara tradisi, kekayaan alam yang ada telah membentuk pola interaksi dalam kehidupan masyarakat asli dengan sumberdaya alam, baik berupa hutan dan perairan sehingga membentuk pola-pola budaya yang spesifik, baik pada pola ruang, pola pergerakan, arsitektur bangunan, mata pencaharian dan lain sebagainya. Kekayaan sumberdaya alam, selama ini telah memberikan sumber kehidupan dan kesejahteraan bagi masyarakat asli serta membentuk pola ketergantungan masyarakat terhadap sumberdaya alam.

Saat ini, dimana alokasi sumberdaya alam semakin terbatas karena adanya berbagai bentuk peruntukan lahan dan perubahan cara pandang terhadap fungsi dan manfaat hutan, diperlukan upaya-upaya optimalisasi pemanfaatan sumberdaya hutan melalui pemanfaatan multifungsi hutan. Arah pemanfaatan multifungsi hutan ini adalah tercapainya kelestarian fungsi hutan yang dapat mendukung kesejahteraan masyarakatnya melalui pemanfaatan fungsi dan jasajasa lingkungan hutan. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan agar manfaat yang diperoleh dapat menjamin kelestarian sumberdaya hutan dan dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat, sehingga harus dilakukan perencanaan berbasis sumberdaya hutan dan masyarakat.

Gambar 1. Beberapa situs sejarah Siak Sri Indrapura

Gambar 2. Beberapa situs sejarah di Kabupaten Pelalawan

2.3.2.1. Potensi Pengembangan Ekowisata
Potensi jasa lingkungan yang dapat dimunculkan dari Semenanjung Kampar diantaranya adalah potensi sumberdaya hutan, yang berupa flora, fauna dan ekosistem serta panorama alam dan gejala alam. Berdasarkan karakteristik potensi sumberdaya alam, maka arah pemanfaatan dalam bentuk pengembangan ekowisata menjadi pilihan yang dapat dilakukan. Potensial obyek dan daya tarik wisata yang sudah dapat teridentifikasi di wilayah Semenanjung Kampar adalah berupa ekosistem perairan di Sungai Kampar, Sungai Serkap, Danau Sarang Burung, Danau Tasik Serkap, Danau Tasik Belat, ekosistem hutan gambut di sekitar danau-danau serta potensi di area Madukoro dan Sungai Kutup. Lokasi-lokasi tersebut merupakan habitat bagi berbagai jenis satwa, diantaranya adalah Harimau Sumatera, Beruang Madu, burung-burung air, burungburung migran, Buaya air tawar dan Buaya muara. Fenomena alam berupa pertemuan arus laut dan Sungai Kampar yang membentuk gelombang besar ‘Bono’ juga menjadi daya tarik potensial untuk dikembangkan. Di wilayah sekitar Semenanjung Kampar juga terdapat pantai Ogis dengan hamparan pasir pantai yang terbentang luas dan menjadi lokasi pandang yang baik bagi pengamatan ‘Bono”. Terkait dengan upaya kelestarian ekosistem hutan gambut, hal terpenting yang harus dilakukan adalah pengaturan hidrologi wilayah. Dengan demikian pembangunan kanal-kanal sedapat mungkin akan dihindari. Kondisi ini menjadikan pengembangan obyek wisata diarahkan untuk lebih terkonsentrasi pada lokasi-lokasi yang dapat dicapai melalui sungai-sungai alami yang ada di wilayah ini, yaitu lokasi-lokasi di sekitar Sungai Serkap dan Sungai Kutup. Jenis dan penyebaran potensi-potensi wisata dan arahan konsentrasi lokasi pengembangan dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambaran potensi pengembangan dan hasil perhitungan kemampuan lahan pengembangan wisata memberikan data sebagai berikut: untuk
a. Potensi di sekitar Sungai Serkap
1) Sungai Serkap dan Tasik Sarang Burung
Sungai serkap merupakan salah satu sungai yang bermuara di Sungai Kampar. Untuk

menyusuri Sungai Serkap menuju ke Tasik Serkap (Suaka Margasatwa Tasik Serkap), pengunjung dapat menggunakan speedboat dengan waktu tempuh sekitar 6 jam dan jika menggunakan pompong sekitar 10 – 12 jam. Sungai Serkap, merupkan sungai yang biasa digunakan oleh penduduk Kelurahan Teluk Meranti, Desa Teluk Binjai dan desa-desa sekitarnya untuk mencari ikan. Mereka mendirikan rumah-rumah di atas air. Danau Tasik Serkap memiliki luasan + 60 Ha dan merupakan tempat singgahnya burung-burung migran.

Gambar 3. Jenis daya tarik wisata dan penyebarannya di Semanjung Kampar serta arahan konsentrasi lokasi pengembangannya Gambar 4. Suasana sungai serkap

Menurut keterangan masyarakat, sudah banyak yang mengunjungi danau ini baik mahasiswa seperti dari UNRI(Univrsitas Riau) dan UIR (Universitas Islam Riau) untuk tujuan penelitian, orang asing yang penelitian maupun sekedar berwisata melihat burung dan susur sungai. Pengunjung mancanegara yang pernah mengunjungi Tasik Serkap diantaranya adalah berasal dari China, Malaysia, Eropa.
Selama menyusuri Sungai Serkap, pengunjung bisa menjumpai empat danau diantaranya (arah hilir menuju hulu) adalah danau Celanang, Tasik Kuali, Tasik Tengah dan Tasik Serkap. Pemandangan sekitar sungai dan danau yang masih alami dan tumbuhan pandan yang mengitarinya memberikan suasana menarik dan panorama alam yang indah. Selain itu pengunjung juga disajikan dengan berbagai aktivitas nelayan yang sedang menangkap ikan, membuat salai (ikan yang diasapkan). Nelayan ini ada yang bermukim sementara sekitar 2
– 3 bulan untuk mencari ikan.

Gambar 5. Rumah nelayan di Sungai Serkap
Hasil perhitungan kemampuan lahan untuk pengembangan wisata pada lokasi ini adalah memperlihatkan nilai VAC (Visual Absorbtion Capability) rendah dengan nilai 8 poin.
2) Tasik Sarang Burung
Tasik Sarang Burung merupakan kawasan konservasi dengan bentuk pengelolaan Suaka Margasatwa (SM Tasik Serkap-Tasik Sarang Burung). Lokasi SM Tasik Serkap-Tasik Sarang Burung ini berada di Kecamatan Teluk Meranti Kabupaten Pelalawan. Lokasi SM ini berbatasan langsung dengan Teluk Meranti Estate yang akan dikelola oleh PT. PT. RAPP. Di sekitar SM telah banyak pemukiman penduduk yang berprofesi sebagai nelayan. Mereka tinggal, mengambil ikan, mengolah ikan untuk dijual. Selain itu mereka juga membangun ladang yang ditanami berbagai macam jenis sayuran dan bahan pokok lainnya. Pemenuhan kebutuhan pokok mereka sangat tergantung dengan keberadaan SM ini.

Gambar 6. Kehidupan nelayan di sekitar SM Tasik Serkap-Tasik Sarang Burung
Di areal ini dapat dijumpai berbagai macam jenis tumbuhan seperti Kantong Semar, Palm Merah, pandan-pandanan, berbagai jenis tumbuhan bawah, epifit, anggrek, dan lain-lain. Kantong semar yang ada mulai dari yang ukuran kecil sampai besar dengan bentuk bulat dan memanjang. Hutan di sekitar Sungai Serkap yang masuk kawasan SM Tasik Serkap-Tasik Sarang Burung merupakan hutan alam, sehingga kaya akan beragam jenis tumbuhan.
Jenis-jenis satwa yang dapat dijumpai adalah berbagai jenis burung air. Burung-burung tersebut mencari makan di kawasan ini, sehingga kawasan ini merupakan areal feeding bagi satwa. Hal ini sangat terkait dengan matapencaharian para nelayan, dikarenakan mereka akan mencari daerah/areal yang banyak ikannya dan satwa-satwa seperti burung pemakan ikan merupakan bio-indikator bahwa areal tersebut masih terdapat pakan mereka. Selain jenis-jenis burung air terdapat pula satwa yang ainnya seperti Biawak, burung Murai daun, Kura-kura, Ular, Katak, Kodok dan lainnya.

Gambar 7. Burung-burung air di SM Tasik Serkap-Tasik Sarang Burung
Hasil perhitungan kemampuan lahan untuk pengembangan wisata pada lokasi ini memperlihatkan nilai Visual Absorption Capability (VAC) sedang dengan nilai 20 poin.
Secara garis besar poin-poin interes di sepanjang Sungai Serkap adalah sebagai berikut:
. Kuala Sungai Serkap; di sebrang muara Sungai Serkap yaitu di Tanjung Bebayang merupakan habitat Mentok rimba (Caerina scutulata) dan muara Sungai Serkap terdapat batas zona peralihan vegetasi yangg dipengaruhi salinitas dengan ciri tumbuhan bintaro (Cerbera manghas).
. Beberapa puluh meter dari muara Sungai Serkap dijumpai batas pengaruh Bono yang berupa tumpukan lumpur serta terdapat lokasi potensial untuk pengamatan burung Kirikiri biru di feeding areanya dan Buaya (Crocodilus porosus) terutama di musim kemarau.
. Di sekitar pondok masyarakat merupakan area potensial untuk bird watching.
. Plang SM Tasik Serkap (sebelum belokan sungai) merupakan habitat Mentok rimba (Caerina scutulata).
. Antara Tasik Sarang Burung sampai Tasik Tengah terdapat mud flat yang menjadi feeding area burung migran dan burung air, buaya air tawar (Tomistoma schelegeli) dan Buaya air payau (Porosus sp). Tumbuhan yang dapat dijumpai adalah komunitas palm rawa dan komunitas pinang merah.
. Danau tengah merupakan daerah burung migran.
b. Potensi Wisata di Sekitar Sungai Kutup

1) Blok Madukoro.
Areal ini merupakan areal HTI di Semenanjung Kampar dengan jenis tanaman Acasia. Blok ini mensupply bahan baku industry pulp yang dikelola oleh PT. PT. RAPP. Beberapa blok di areal ini masih dibiarkan dalam bentuk hutan alam. Areal hutan alam ditumbuhi berbagai jenis tumbuhan dari tumbuhan bawah, epifit, liana, pohon-pohon dan lain sebagainya. Di dalam hutan alam ditumbuhi jenis-jenis tumbuhan seperti ramin yang termasuk tumbuhan yang dilindungi dan merupakan tumbuhan khas di daerah rawa gambut, selain itu juga terapat berbagai jenis meranti, kantong semar dengan berbagai ukuran dari yang kecil sampai yang besar.

Gambar 8. Hutan tanaman Akasia dan hutan alam di Blok Madokoro
Di areal ini dapat dijumpai berbagai jenis satwa seperti harimau sumatera terutama saat malam hari, karena satwa ini merupakan satwa nocturnal. Pada malam hari Harimau mencari mangsa/buruannya. Keberadaan Harimau sumatera dapat dilihat dari jejak yang ditemukan. Jejak harimau sumatera sangat jelas dan ditemukan di beberap tempat di blok Madukoro. Selain itu di blok Madukoro ini juga dapat dijumpai berbagai jenis satwa lainnya seperti Kura-kura, Ular, Katak, Kodok, Cairina scuhilata, bangau, jenis-jenis Rangkong, Macaca fascicularis, dll.

Gambar 9. Jejak harimau Sumatera dan jenis ular yang dijumpai di Blok Madukoro
Areal ini potensial untuk dikembangkan menjadi tempat wisata. Dari segi akses sangat mudah karena adanya jalan yang telah dibangun oleh PT. PT. RAPP untuk memuat bahan baku ke pabrik, kanal dan Sungai Kutup. Untuk melalui jalan yang ini diperlukan izin khusus dan mengikuti peraturan yang ditetapkan oleh PT. PT. RAPP.

Hasil perhitungan kemampuan lahan untuk pengembangan wisata pada lokasi ini memperlihatkan nilai VAC sedang dengan nilai 22 poin.
2) Sungai Kutup
Sungai ini merupakan sungai berada di bagian barat daya wilayah Semenanjung Kampar. Area sekitar Sungai Kutup termasuk dearah kubah gambut yang membentang sampai ke area Sungai Turip dengan ketebalan gambut mencapai lebih dari 10 meter.

Hasil perhitungan kemampuan lahan untuk pengembangan wisata pada lokasi ini adalah memperlihatkan nilai VAC rendah dengan nilai 9 poin.
c. Potensi Wisata di Sekitar Sungai Kampar
1. Bono
Bono adalah alunan gelombang besar yang terjadi bersamaan dengan pasang naik dan pasang surut dengan ketinggian puncak gelombangnya mencapai 4 – 6 meter. Rentangan gelombang tersebut hampir selebar sungai Kampar. Gelombang ini terjadi akibat benturan tiga arus air yang berasal dari Selat Malaka, Laut Cina Selatan dan aliran air Sungai Kampar dengan menimbulkan gelombang besar yang menggulung dan menghempas jauh kedalam sungai sehingga dapat menggulung dan menenggelamkan perahu serta kapal-kapal baik besar maupun kecil.
Untuk itu jika sedang berada di sekitar daerah Bono, kemudian terdengar suara deru gelombang yang menggemuruh dari arah muara/kuala sungai, segeralah bersiap-siap mencari perlindungan ditempat yang aman yaitu dengan tetap di sungai dengan mencari daerah yang airnya dalam atau kembali ke darat dengan sekaligus membawa perahunya ke darat agar tidak digulung oleh Bono.
Menurut legenda, konon Bono di sungai Kampar adalah Bono Jantan sedangkan Bono betinanya berada di sungai Rokan. Bono di sungai Kampar dulunya berjumlah 7 (tujuh) ekor dan yang satunya ditembak oleh orang Belanda sehingga yang tinggal sekarang hanya 6 (enam) ekor. Di musim Pasang mati Bono ini pergi menuju betinanya di sungai Rokan, kemudian bercengkrama di Selat Malaka. Apabila pasang mulai membesar kembalilah mereka ke tempat masing-masing, semakin besar arus pasang semakin gembiralah mereka berpacu memudiki sungai.
Bagi masyarakat tempatan yang sudah terbiasa dengan kedatangan Bono dan bernyali besar, kedatangan Bono disambut dengan memacukan kapal motornya meluncur ke lidah ombak di punggung Bono bagaikan pemain selancar, atraksi ini oleh penduduk tempatan disebut “BEKUDO BONO”, karena mirip dengan atraksi seorang joki yang sedang berusaha menjinakkan kuda liar. Bono ini dapat dilihat pada setiap bulan pada saat terjadi pasang besar, namun pada akhir tahun atau pada musim Barat, Bono akan terjadi lebih besar.
Fenomena Bono dapat lihat 2 kali dalam sebulan yaitu (1) saat pasang mati tgl 28 (akhir bulan) sampai awal bulan yaitu tanggal 3 dan (2) saat air PASANG yaitu bulan purnama sekitar tanggal 14 – 19 bulan Hijriah. Puncak Bono biasanya terjadi pada tanggal 1-2 dan 16-17 bulan Hijriah setiap bulannya.

2. Wisata Pantai Ogis
Wisata Pantai Ogis, terletak di Kelurahan Teluk Meranti ,Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan. Pantai Ogis sebenarnya merupakan pinggiran sungai Kampar yang berada di Kelurahan Teluk Meranti. Disebut sebagai pantai, karena hamparan pasir Bono yang dibawa oleh peristiwa yang disebut Bono. Pasir/lumpur yang dibawa Bono yang berwarna putih bersih membuat pinggir sungai Kampar ini seperti pantai. Pasir Bono, memiliki sifat semakin kering semakin kuat dan keras. Pantai Ogis membentang dari Kelurahan Teluk Meranti sampai ke Tanjung Bebayang sekitar + 15 km. Luasan pantai ini berubah-ubah, terpengaruh oleh pasang surut air sungai Kampar.

Hasil perhitungan kemampuan lahan untuk pengembangan wisata pada lokasi ini adalah memperlihatkan nilai VAC tinggi dengan nilai 30 poin.
2.3.2.2. Kajian Pengembangan Ekowisara
Berdasarkan kondisi potensi, aksesibilitas dan hasil penilaian kemampuan lahan untuk pengembangan wisata diperoleh cluster pengembangan sebagai berikut:
a. Pengembangan obyek ekowisata pada obyek-obyek yang berlokasi di sekitar Sungai Serkap dan Sungai Kutup.
b. Pengembangan obyek wisata alam pada obyek-obyek yang berada di Pantai Ogis dan fenomena alam Bono.

Berdasarkan status pengelolaan kawasan yang menyebabkan adanya aturan-aturan khusus dalam hal pemanfaatan kawasan, potensi obyek yang akan dikembangkan dikelompokan menjadi:
a. Obyek wisata minat khusus dengan jumlah pengunjung terbatas dan dengan tujuan utama pendidikan dan penelitian, yaitu pada obyek wisata dengan status kawasan sebagai suaka margasatwa (Suaka Margasatwa Tasik Serkap-Tasik Sarang Burung, Suaka Margasatwa Tasik Serkap dan Suaka Margasatwa Tasik Belat).
b. Obyek wisata minat khusus dengan tujuan utama pengamatan keindahan alam dan satwa liar di lokasi obyek wilayah Sungai Kutup.
c. Obyek wisata rekreatif di wilayah sekitar Teluk Meranti (Pantai Ogis dan Bono).

Pengembangan Aktivitas
Berdasarkan klaster pengembangan dan status pengelolaan kawasan, aktivitas yang dapat dilakukan diantaranya adalah:
a. Wisata Minat Khusus untuk tujuan terbatas. Aktivitas yang dapat dikembangkan diantaranya adalah:
Pengamatan burung.
Mengenal keanekaragaman flora kawasan.
Mengenal keanekeragaman fauna kawasan.
Berpatroli bersama Ranger.
Susur Sungai Serkap.
Mengenali kehidupan nelayan di Sungai Serkap.
b. Wisata Minat Khusus untuk pengamatan keindahan. Aktivitas yang dapat dilakukan adalah:
Pengamatan burung.
Pemantauan Harimau bersama Ranger.
Mengenal flora dan fauna di Blok Madukoro.
Susur Sungai Kutub.
Menikmati pemandangan dan keindahan hutan.
c. Obyek wisata rekreatif. Aktivitas yang dapat dilakkan diantaranya adalah:
Trekking di pantai Ogis.
Susur sungai Kampar dengan speedboat.
Bersampan/berperahu.
Memancing.
Menikmati keindahan gulungan ombak “Bono”.
Berkudo Bono.
Belanja di Pasar Teluk Meranti.
Penelitian tentang wisata.
Menginap di Teluk Meranti.
Menikmati pemandangan Pantai Ogis.
Off road di Pantai Ogis.

Pengembangan Fasilitas
Pengembangan fasilitas dan sarana wisata yang akan dibangun harus berdasarkan pada kebijakan dan aktivitas yang akan dilakukan di tempat wisata yang akan dikembangkan. Berdasarakan klaster pengembangan obyek yang direncanakan, maka pengembangan fasilitas yang memungkinkan dibangun akan berbeda, tergantung dengan tujuan dan kondisi site/tapak adalah:
a. Pengembangan fasilitas untuk kegiatan Ekowisata. Pengembangan kegiatan ekowisata ini diharapkan dapat memberikan dampak yang nyata pada upaya konservasi, peningkatan kesejahteraan dan pelibatan masyarakat.S esuai dengan tujuannya bahwa pada obyek-obyek yang berada di Sungai Kutup dan Serkap akan dikembangkan menjadi tujuan ekowisata dengan target pasar tertentu yang berorientasi lingkungan, sehingga pembangunan fasilitas dapat dilakukan dengan meminimalisai dampak negative terhadap sumberdaya yang ada. Didalam kawasan Suaka Margasatwa yang berada di sepanjang sungai Serkap telah terbangun beberapa pemukiman penduduk, maka dalam pengembangan fasilitasnya bisa memanfaatkan apa yang telah masyarakat miliki. Selain itu di dalam Blok Madukoro telah berdiri camp-camp yang dapat dimanfaatkan sebagai fasilitas pengembangan kegiatan wisata. Pemukiman dan camp yang sudah ada dapat digunakan sebagai pusat informasi bagi wisatawan, penginapan (homestay) sehingga masyarakat sekitar akan memperoleh keuntungan. Untuk mendukung aktivitas wisata yang akan dikembangkan dapat dibangun menara pengawas, yang dapat berfungsi sebagai tempat untuk pengamatan satwa seperti burung-burung sungai dan pengamatan satwa lainnya.
b. Pengembangan fasilitas untuk kegiatan rekreatif

Pengembangan fasilitas di Pantai Ogis dan fenomena alam Bono yang berada di sekitar Kelurahan Teluk Meranti, dapat memanfaatkan apa yang telah dimiliki oleh masayarakat di Kelurahan Teluk Meranti dan Sekitarnya. Di Kecamatan Teluk Meranti, berdasarkan data monografi sudah terdapat fasilitas seperti penginapan yang telah dikelola oleh masyrakat, dimiliki oleh dua warga yang berkapasitas 10 – 15 kamar dengan tarif Rp. 60.000-110.000/hari diluar makan.
Kawasan Pantai Ogis merupakan kawasan yang berada di luar Semenanjung Kampar, sehingga lebih leluasa untuk dikembangan. Pengembangannya dapat melibatkan pemerintah, perusahaan dan masyarakat setempat. Fasilitas yang dapat dibangun adalah menara pandang untuk melihat fenomena Bono.
2.3.2.3. Pendugaan Nilai Ekonomi Ekowisata Semenanjung Kampar
Dari data kunjungan wisatawan diperoleh bahwa pada tahun 2008 yang berkunjung ke istana Siak sebesar 32208 orang atau mengalami kenaikan sebesar 28,5% dari jumlah wisatawan tahun 2007. Walaupun disayangkan pada tahun 2009 wisatawan yang mengunjungi Kabupaten Siak mengalami penurunan sebesar 2,2% yaitu sebesar 31495 wisatawan. Begitupula dengan jumah kunjungan wisatawan mancanegara yang datang ke Provinsi Riau mengalami penuruan dibandingkan tahun 2008. Wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Provinsi Riau tahun 2009 melalui berbagai pintu masuk di Provinsi Riau sebanyak 34224 orang atau mengalami penuruan sebesar 4%.
Untuk menghitung nilai ekonomi ekowisata di Semenanjung Kampar didasarkan pada asumsi sebagai berikut :
1 Untuk memprediksi jumlah wisatawan yang akan berkunjung Ke kawasan Wisata Semenanjung Kampar, dihitung 10% dari jumlah wisatawan tahun 2009 yang berkunjung ke Siak untuk wisatawan Nusantara, sedangkan jumlah wisatawan mancanegara adalah dari 10% wisatawan yang berkunjung ke Pekanbaru melalui berbagai pintu masuk.
2. Jumlah pengeluaran wisatawan, dihitung dari kota Pangkalan Kerinci dengan Komponen-komponen sebagai berikut:
a. Wisatawan Mancanegara (Modifikasi dari Nesparnas, 2004)
b. Wisatawan Nusantara (modifikasi dari Nesparnas, 2004)

No Komponen Biaya Presentase (%)
1 Akomodasi 40
2 Makanan dan minuman 20
3 Cinderamata 8
4 Belanja 14
5 penerbangan domestik 3
6 Transportasi lokal 4
7 lain-lain 11

No Komponen biaya Persentase (%)
1 Akomodasi 7
2 Makanan dan minuman 19
3 Cinderamata 4

No Komponen biaya Persentase (%)
4 Belanja 20
5 Transportasi 40
6 lainnya 10

Dengan asumsi di atas, pengeluaran wisatawan nusantara akan mengeluarkan biaya sebesar Rp. 3.250.00,00 per wisatawan dan pengeluaran biaya wisatawan mancanegara Rp. 32.500.000,00. Sehingga dari asumsi tersebut di atas diperoleh nilai ekonomi dari wisata yang dapat diberikan dengan adanya Kawasan Semenanjung Kampar adalah sebagai berikut dari wisatawan mancanegara sebesar Rp. 111.215,00 Milyar/tahun dan untuk wisatawan nusantara sebesar Rp. 10.234,25 Milyar/tahun.

Banyaknya kepentingan yang berhubungan dengan Semenanjung Kampar menuntut adanya pengelolaan secara kolaboratif kawasan tersebut. Dalam konteks pembangunan wilayah secara berkelanjutan, pengelolaan kolaboratif semenanjung Kampar harus didasarkan atas kelestarian fungsi ekologi, fungsi sosial-budaya dan fungsi ekonomi. Dalam konteks ini, prinsip-prinsip yang dikedepankan adalah:
1 Kawasan Lindung Gambut dan Kawasan Konservasi sebagai perajut semua kepentingan dan dikelola bersama secara bertanggung-gugat. Dalam kawasan ini pemanfaatan yang dilakukan berbasis pada jasa lingkungan (ekowisata, karbon, air), sumberdaya perairan dan hasil hutan nir kayu.
2 Semua pelaku pembangunan bersedia untuk menerapkan adi-praktis (Best Practices), baik pemerintah, swasta, masyarakat dan LSM, khususnya dalam pengelolaan tata air.
3 Semua pelaku pembangunan bersedia mematuhi peraturan dan kesepakatan.
4 Kelembagaan kolaboratif PSK dikembangkan secara partisipatif.

2.4.1.Skenario Pengelolaan Semenanjung Kampar
ProForest (2005) telah menganalisis empat skenario simulasi dalam model subsidensi1. Keempat sekenario tersebut adalah: (a) Moratorium (tak ada pengembangan lanjut) sejak tahun 2005; (b) Pengembangan Kampar Ring (KR) dengan pengelolaan air buruk tanpa perbaikan, (c) Pengembangan Kampar Ring dengan perbaikan pengelolaan air dan usaha mitigasi, (d) Pengembangan seluruh konsesi HTI dalam Semenanjung Kampar (SK) dengan pengelolaan air yang buruk.
Skenario (a) moratorium tak ada perkembangan HTI sejak tahun 2005, maka dampak subsidensi sampai kurun waktu 50 tahun hanya terjadi pada 40% area sebelah timur jalan pelabuhan Putong (Gambar 14).
1PROFOREST. December 2005. Landscape level assessment of hydrological and ecological values in the Kampar peninsular.

Skenario (b) ini didasarkan pada plan PT. RAPP untuk Kampar Ring, tetapi diasumsikan praktek pengelolaan air yang buruk (seperti tahun 2005), dengan kedalaman air tanah di perkebunan HTI rerata 1.1 m. Hal ini mengakibatkan terjadinya subsidensi nyata pada luasan >50% lahan gambut sebelah timur jalan pelabuhan Putong dalam kurun waktu 25 tahun, dan 60% dalam kurun waktu 50 tahun. Pada kurun waktu selanjutnya sistem hidrologi tak berfungsi dan kehilangan HCV (Gambar 15).

Skenario (c) pengembangan Kampar Ring dengan aplikasi mitigasi dalam HTI/perkebunan yakni memperbaiki kedalaman airtanah pada tingkat 0.8 m atau kurang, tak ada peripheral drains (drainase pembatas), pembuatan buffer zone dan penutupan bekas canal logging lama. Maka 58% areal dari sistim sebelah timur jalan pelabuhan Putong tetap masih intact dan fungsi HCV pada tingkat landscape masih mampu dipertahankan (Gambar 16). Hanya 42% yang dipengaruhi subsidensi.

Skenario (d) mencakup pengembangan Kampar Ring dengan praktek pengelolaan air yang buruk (seperti pada skenario (a)), dan lebih lanjut pada central area Semenanjung Kampar juga dikembangkan untuk perkebunan/HTI. Dampaknya adalah sekitar 7080% sebelah timur jalan pelabuhan Putong akan terpengaruh. Hal ini akan merubah fungsi sistim hidro-ekologi, runtuhnya kubah gambut dan sering terjadi kebakaran hutan (Gambar 17).

Kubah gambut di semenanjung Kampar mengembang berada di sebelah barat jalan pelabuhan Putong berada di luar areal assessment. Hasil simulasi ini memperlihatkan bahwa Semenanjung Kampar skenario (c) yakni pengembangan Kampar Ring dengan pengelolaan iar yang baik dan mitigasi merupakan solusi terbaik karena tidak berbeda jauh dampaknya seperti pada skenario (a) moratorium.
Table 1. Ringkasan dampak subsidensi pada berbagai skenario

Catatan: Prakiraan luasan diambil dari “Peat Subsidensi Rapid Assessment Tools”
Dari skenario pengelolaan di atas, nampak bahwa dalam jangka panjang pembangunan HTI di Kampar Ring dengan diikuti pengelolaan air yang baik dan tindakan mitigasi yang diperlukan lebih baik dibandingkan dengan moratorium. Skenario ini menunjukkan bahwa keputusan pemerintah untuk mengeluarkan ijin pembangunan hutan tanaman di Kampar Ring tidak menyalahi skenario pengelolaan Semenanjung Kampar secara berkelanjutan.
2.4.2.Penetapan Kawasan Lindung Gambut
Menurut Permen Pekerjaan Umum no 11A/PRT/M/2006, Semenanjung Kampar termasuk dalam Wilayah Sungai Kampar lintas propinsi Sumatera Barat-Riau, terdiri dari beberapa DAS yakni Kampar, Kampar Kiri, Kampar Kanan, Bt Kapur, Bt Mahat. DAS Kampar Kiri terdiri dari Sub DAS Batangrua, Metas, Rawa, Belat, Lanus, Apung, Serkap, Kutup, Selempaya, Rangsang, Turip, Sangar.
Konsep hutan lindung gambut dimulai sejak kajian kesesuaian lahan di semenanjung Kampar oleh Pusat Pengkajian dan Penerapan Ilmu Teknik untuk Pertanian Tropika (CREATA LP-IPB)2 Oktober 2001 dan Oktober 2003. Merujuk pada Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung dalam kaitannya dengan Lahan Gambut, berdasarkan Bab Ketentuan Umum, dapat diuraikan berbagai definisi sebagai berikut:
(a) Kawasan Lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi umum melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber alam, sumber daya buatan dan nilai sejarah serta budaya bangsa guna kepentingan pembangunan berkelanjutan.
(b) Pengelolaan Kawasan Lindung adalah upaya penetapan, pelestarian dan pengendalian pemanfaatan kawasan lindung.
(c) Kawasan Hutan Lindung adalah kawasan hutan yang memiliki sifat khas yang mampu memberikan perlindungan kepada kawasan sekitar maupun bawahannya sebagai pengatur tata air, pencegah banjir dan erosi serta memelihara kesuburan tanah.
(d) Kawasan Bergambut adalah kawasan yang unsur pembentuk tanahnya sebagian besar berupa sisa-sisa bahan organik yang tertimbun dalam waktu yang lama.
(e) Kawasan Resapan Air adalah daerah yang mempunyai kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan sehingga merupakan tempat pengisian air bumi (aquifer) yang berguna sebagai sumber air.
(f) Sempadan sungai adalah kawasan sepanjang kiri kanan sungai, termasuk sungai buatan/kanal/saluran irigasi primer, yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai.
(g) Kawasan Sekitar Danau/Waduk adalah kawasan tertentu di sekeliling danau atau waduk yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi danau atau waduk.
(h) Kawasan Suaka Alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistimnya.

Ruang lingkup Kawasan Lindung terdiri dari: (a) Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya, (b) Kawasan Perlindungan Setempat, (c) Kawasan Suaka Alam dan Cagar Budaya, (d) Kawasan Rawan Bencana Alam.
Kawasan yang memberikan perlindungan pada kawasan bawahannya terdiri dari: (a) Kawasan Hutan Lindung, (b) Kawasan Bergambut, (c) Kawasan Resapan Air. Sedangkan Kawasan Perlindungan Setempat terdiri dari: (a) Sempadan pantai, (b) Sempadan sungai, (c) Kawasan sekitar danau/waduk, (d) Kawasan sekitar mata air.
Kriteria kawasan bergambut adalah tanah bergambut dengan ketebalan 3 meter atau lebih yang terdapat di bagian hulu sungai dan rawa. Dalam kaitannya dengan kasus yang ada di Semenanjung Kampar maka ada dua hal yang perlu diperhatikan yakni:
(a) Daerah kawasan bergambut yang berfungsi sebagai resapan air yang memberikan fungsi perlindungan bagi daerah bawahnya dari kemungkinan banjir, erosi dan kekurangan air pada musim kemarau.
(b) Kawasan lindung sekitar danau/waduk yang memberikan perlindungan setempat untuk Tasik Belat, Tasik Serkap/Sarang Burung dan Tasik Metas yang berada di bagian tengah Semenanjung Kampar.

2 CREATA (Center for Engineering Application in Tropical Agriculture), LPPM-IPB
5.1Kawasan Bergambut sebagai Resapan Air
Kawasan bergambut yang berfungsi sebagai daerah resapan air bagi daerah di bawahnya adalah daerah sekitar bagian kubah gambut (peat dome), yang dari segi topografi merupakan daerah atas dan perlu dilindungi supaya fungsi hidrologisnya dapat dipertahankan.
Fungsi hidrologisnya adalah: (a) menyerap dan menyimpan air pada musim hujan sehingga banjir akibat aliran airtanah dan limpasan permukaan (runoff) di daerah bawahnya dapat dikendalikan, dan (b) melepasnya secara perlahan-lahan dalam bentuk aliran airtanah bawah permukaan pada musim kemarau sehingga kedalaman airtanah dapat dikendalikan dan kebakaran hutan di daerah bawahnya dapat dicegah. Secara skhematis penampang kubah gambut di antara dua buah sungai dapat digambarkan seperti pada Gambar 18.

Keterangan:
L: Lebar kubah gambut yang dilindungi; X1 dan X2: lebar lahan gambut pada kaki kubah gambut yang dibudi-dayakan untuk HTI; E1: Elevasi puncak kubah gambut; E2: Elevasi muka air di kanal tertinggi pada lahan HTI.
Besarnya nilai L dan X1 serta X2 merupakan batas dimana luasan Kawasan Lindung perlu dipertahankan supaya fungsi perlindungannya untuk kawasan budidaya di bawahnya dapat terjamin keberlanjutannya. Besarnya kemampuan menyimpan air di kubah gambut secara volumetrik tergantung pada besarnya porositas tanah gambut dan beda elevasi antara E1 dan E2. Porositas tanah gambut tergantung pada tingkat kematangan tanah gambut. Di daerah kubah gambut umumnya kematangannya rendah (fibrik) karena lahan sering tergenang dengan proses oksidasi yang terhambat. Sifat fisik tanah gambut pada tingkat kematangan fibrik adalah porositas (n) 90 – 95% volume, lengas tanah pada kapasitas lapang sekitar 45% volume, berat jenis 0.2 gr/cm3 dan hantaran hidrolik tanah sekitar 5 – 6 m/hari.
Kapasitas maksimum penyimpanan air dapat dihitung sebagai berikut:
Kapasitas menyimpan air = (E1 – E2) x FB x L x n /5.1/
dimana FB adalah faktor koreksi bentuk (nilainya sekitar 0.6) dan n adalah angka total porositas rata-rata (90-95%). Nilai kapasitas maksimum penyimpanan air tersebut dinyatakan dalam satuan m3 per meter panjang.
Lengas tanah gambut kapasitas lapang pada kondisi vegetasi hutan alami adalah sekitar 45% volume, sehingga dari total volume air yang disimpan pada musim hujan (sebesar porositasnya 90% volume) sekitar 50% akan dilepas secara gravitasi sebagai aliran airtanah bawah permukaan tanah ke daerah di bawahnya3. Nilai 50% ini disebut sebagai Faktor Deplesi (FD).
Jumlah (volume) air yang dilepas dari kubah gambut pada musim kemarau harus lebih besar atau sama dari jumlah air yang diperlukan untuk memenuhi defisit air pada musim kemarau di lahan bagian bawahnya. Sehingga dengan demikian persamaan /5.1/ sekarang menjadi persamaan /5.2a/, /5.2b/, dan /5.2c/.
(X1 + X2) × Defisit air pada MK ≤ (E1 − E2) × FB × L × n × FD /5.2a/
Dengan menggunakan nilai FB = 0.6; n = 0.90 dan FD = 0.50, maka persamaan /5.2a/, menjadi persamaan /5.2b/.
(X1 + X2)× Defisit air pada MK ≤ (E1 − E2) × L × 0.27 /5.2b/
atau
Defisit air pada MK L
≤ /5.2c/
(E1 − E2) × 0.27 (X1 + X 2)
Dengan menggunakan persamaan /5.2c/ di atas, maka kawasan lindung gambut dan kawasan budidaya dapat dideliniasi seperti pada Gambar 19. Areal kawasan lindung gambut ini merupakan daerah hulu sungai. Kawasan lindung gambut berada di tengah dan dikenal sebagai kawasan NKT 4.1 (areal yang penting sebagai penyedia air dan pengendalian banjir bagi masyarakat)4 .
Konsep ini sudah disosialisasikan sehingga merubah bagian tengah kubah gambut dari RUTRW semula sebagai Kawasan Hutan Produksi menjadi Kawasan Lindung Gambut dalam RUTRW Prop Riau 2007-2026 (Gambar 20). Kemudian muncul istilah Core
3 Faktor Deplesi = 0.45/0.90 = 0.50 atau 50%
Kementrian Lingkungan Hidup sedang membuat Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pengendalian Kerusakan Ekosistem Gambut. Pada pasal 8 rancangan peraturan tersebut dijelaskan bahwa kawasan lindung kubah gambut berada di sekitar titik tengah puncak kubah gambut yang luasnya paling sedikit 30 persen dari seluruh area kesatuan hidrologis gambut, atau yang kedalamannya lebih dari 3 meter.
Conservation untuk kawasan lindung di bagian tengah kubah gambut dan Kampar Ring (KR) di bagian kaki kubah gambut sebagai kawasan budidaya. Beberapa perusahaan sudah melaksanakan konsep konservasi kubah gambut antara lain PT. RAPP dan perusahaan Grup Sinar Mas dengan anak perusahaan PT. Putra Riau Perkasa dan PT. Balai Kayang Mandiri yang telah mengalokasikan sebagian besar daerah konsensinya menjadi kawasan lindung gambut (Gambar 21)5 .
Menurut RTRWP Riau 2007-2026, kawasan lindung gambut dan hutan lindung dinyatakan seperti pada Gambar 5.2b, sedikit berbeda dengan yang diajukan oleh CREATA (Gambar 5.2a). Berdasarkan data CREATA dan RUTRWP Riau, maka dibuat modifikasi deliniasi kawasan lindung gambut seperti pada Gambar 5.3. Luas kawasan lindung gambut (konservasi inti) 235 518 ha (35.1%), sedangkan kawasan budidaya (Kampar Ring) 435 607 ha (64.9%). Luas total daerah studi 671 125 ha.
Konsep dasar deliniasi tersebut adalah (a) mengakomodir penyusunan RUTRWP Riau dan CREATA, (b) menjamin konservasi sumber air dengan memasukkan kawasan lindung untuk semua danau/tasik yang ada di semenanjung kampar, (c) disesuaikan dengan data pembukaan HTI dan Perkebunan terbaru. Status sekarang kawasan lindung gambut (core conservation) dan kamar ring ini merupakan konsesi beberapa perusahaan HTI, HPH, dan perkebunan kelapa sawit seperti terlihat pada Gambar 22.

5 Sumber: Laporan Akhir Studi Potensi Pengembangan Lahan Gambut di Pulau Panjang Provinsi Riau. Kerjasama Sinar Mas Grup dengan Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian IPB, Januari 2007.

Gambar 22. Kawasan lindung gambut di Semenanjung Kampar
Kondisi sekarang di kawasan lindung gambut telah terjadi degradasi fungsi lindung akibat ijin legal pemerintah untuk HPH pada masa lalu. Kegiatan pembalakan pada HPH menggunakan saluran terbuka tanpa bangunan kontrol mengakibatkan terjadinya drainase terkendali, penurunan muka airtanah, dan subsidensi. Kondisi ini harus segera direstorasi, karena jika terlambat maka subsidensi yang terjadi akibat terbukanya sistim kanal tak terkendali dalam pembalakan kayu akan susah untuk mengembalikannya. Hal ini perlu segera ditindak lanjuti oleh Kemenhut untuk segera menetapkan Core Conservation sebagai kawasan lindung gambut dan mencabut semua ijin budidaya di kawasan tersebut. Di sini peranan penting Pengelolaan Kolaboratif di Semenanjung Kampar.
Untuk mengembalikan fungsi kawasan lindung gambut diperlukan penutupan kanal (canal blocking) di bekas kanal pembalakan tersebut di atas. Teknik penutupan kanal dapat menggunakan cerucuk kayu gelam dilapisi plastik tahan asam ditimbun dengan gambut seperti membangun peat dam. Tidak diperlukan bangunan pelimpah (spillway) karena jika terjadi debit besar musim hujan maka genangan di kawasan konservasi masih diijinkan. Jarak antar lokasi penutup kanal tergantung pada kemiringan kanal. Pada prinsipnya beda muka air di hulu dan hilir tidak boleh lebih besar dari 0.5 m. Pembangunan penutup kanal dimulai dari arah hulu (upstream) dan bergerak ke arah hilir.
2.4.3. Pengelolaan Tata Air di Kampar Ring
Pengelolaan air yang baik bertujuan untuk pengembangan lahan gambut berkelanjutan dan berwawasan lingkungan, dicirikan sebagai berikut:
(a) Muka air di saluran drainase dipertahankan setinggi mungkin sehingga kedalaman airtanah di HTI dan areal lain di luar kawasan lindung gambut harus dipertahankan pada selang 50-80 cm sesuai dengan umur tanaman.
(b) Kondisi tersebut di atas dicapai dengan pemasangan bangunan kontrol muka air yakni peat dam dilengkapi dengan bangunan pelimpah (spillway) dengan elevasi pelimpah diatur sesuai dengan elevasi muka air yang diinginkan. Beda muka air hulu-hilir peat dam sekitar 0.2 m. Dengan demikian air cukup lama ditahan di HTI pada musim kemarau, tetapi mampu mengendalikan banjir pada musim hujan dengan adanya spillway.
(c) Tata letak branch canal dirancang sejajar garis contour untuk mempertahankan muka air.
(d) Kelebihan air dari branch canal dan atau main canal dilimpahkan ke sungai setelah melewati sedimentation pond dan atau DOD (dispersed overland discharge), sehingga tingkat kekeruhan air dari kanal ke sungai akan sama atau lebih kecil dari kekeruhan air sungai (terutama waktu operasional intensif kanal, pada waktu tanam dan panen). Hal ini bertujuan supaya pada musim kemarau sungai-sungai kecil sekitar HTI tidak menjadi keruh dan kering.
(e) Sistem kanal bersifat tertutup (closed system), pada outlet sungai utama aliran air dari main canal tidak bersifat langsung tetapi melalui pelimpah dan sedimentation pond, sehingga muka air di kanal tidak terpengaruh oleh fluktuasi pasang-surut muka air di sungai.
(f) Pada batas antara kawasan lindung gambut dengan HTI/Perkebunan dirancang suatu sistim eco-hydro buffer zone yang bertujuan untuk meminimalkan pengaruh penurunan kedalaman airtanah di hutan konservasi. Maksimum penurunan kedalaman airtanah di kawasan lindung gambut sekitar 15 cm yang biasanya terjadi pada MK. Pada MH (musim hujan) air ditampung cukup lama di hutan konservasi dan dikeluarkan perlahan-lahan ke kebun HTI pada MK (musim kemarau).

2.4.4. Kelembagaan Pengelolaan Kolaboratif
Hasil kajian menunjukkan bahwa aktor kunci pembangunan di Semenanjung Kampar yang memiliki pengaruh dan kepentingan tinggi adalah Direktorat Jenderal Planologi dan Direktorat Jenderal Bina Produksi Kehutanan, Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam Riau, dan para pemegang ijin IUPHHK, baik hutan tanaman maupun hutan alam. Pihakpihak yang memiliki kepentingan tinggi, namun kurang memiliki pengaruh adalah masyarakat di sekitar Semenanjung Kampar. Adapun pihak-pihak yang berpengaruh besar, namun kurang memiliki kepentingan adalah Direktorat Jenderal PHKA, Dinas Kehutanan Propinsi Riau, Dinas Kehutanan Kabupaten Pelalawan dan Dinas Kehutanan Kabupaten Siak. Dengan demikian, pengelolaan kolaboratif harus dimulai dengan penguatan kelembagaan yang menghubungkan ketiga kelompok di atas dan menuangkannya dalam suatu aturan main dan rencana kolaboratif yang disepakati. Dalam konteks ini, kelompok lain di luar kelompok di atas, seperti perguruan tinggi, lembaga penelitian dan pengembangan, serta LSM, dapat diundang untuk berpartisipasi guna menguatkan kapasitas pengelolaan. Model interaksi antar aktor disajikan pada Gambar 23.
Gambar 23. Model Interaksi antar Aktor di Semenanjung Kampar
Dari Gambar 23 dan hasil kajian di lapangan dapat diketahui bahwa beberapa isu kritis dalam kaitannya dengan pengelolaan Semenanjung Kampar secara kolaboratif antara lain:
1 Secara legal, pemberian Ijin IUPHHK oleh Menteri Kehutanan diproses melalui 2 Direktorat Jenderal, yaitu: Ditjen Planologi (berkaitan dengan kepastian kawasan hutan) dan Ditjen BPK (berkaitan dengan substansi pengusahaan hutan). Secara aktual, sebenarnya kawasan hutan tidak bebas konflik dengan masyarakat lokal yang secara historis telah lama menguasai wilayah ijin tersebut. Dalam kasus Semenanjung Kampar yang sejak tahun 1980-an telah ditetapkan sebagai hutan produksi tetap, konflik tenurial dan akses terhadap sumberdaya alam adalah pembiaran konflik laten yang telah terjadi sejak masa lampau. Secara legal, basis alokasi hak-hak masyarakat lokal dibatasi pada maksimal 5 % dari total luas kawasan IUPHHK-HT dalam bentuk tanaman kehidupan. Kesepakatan pada tingkat kebijakan ini dan/atau pengakuan atas hak-hak masyarakat lokal pada tingkat pelaku usaha merupakan kondisi pemungkin bagi terwujudnya pengelolaan kolaboratif Semenanjung Kampar.
2 Pada tingkat pengelolaan, dampak negatif terhadap lingkungan yang tidak terkendali akan memicu kepedulian publik, melalui gerakan para aktivis lingkungan. Dalam kasus Semenanjung Kampar, isu lingkungan acapkali digunakan oleh para aktivis lingkungan untuk menekan kebijakan pemerintah dan/atau kinerja buruk para pemegang ijin IUPHHK. Isu ini biasanya dikaitkan dengan masalah hak dan akses masyarakat lokal, serta rendahnya komitmen pemegang IUPHHK terhadap benefit sharing bagi masyarakat lokal.
3. Mengingat Semenanjung Kampar adalah ekosistem hutan gambut yang rentan terhadap gangguan, khususnya melalui pengelolaan air tanah gambut, maka berbagai elemen kunci pengelolaan harus diwujudkan, yaitu:
a. Penetapan kawasan lindung yang berfungsi menyimpan air pada musim hujan dan menyediakan air pada musim kemarau bagi daerah sekitarnya. Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1990 dan PP 26 Tahun 2008 menyatakan bahwa Kriteria kawasan bergambut (kawasan lindung gambut) adalah tanah bergambut dengan ketebalan 3 meter atau lebih yang terdapat di bagian hulu sungai dan rawa. Tafsir atas ketentuan tersebut membutuhkan kajian ilmiah yang didasarkan atas neraca air dan elevasi pada ekosistem hutan gambut. Dalam kajian ini kawasan lindung gambut telah dibahas pada sub bab dan disajikan pada Gambar 22.
b. Setiap pengelolaan sumberdaya alam oleh para aktor pembangunan di ekosistem hutan gambut, termasuk IUPHHK-HT dan IUPHHK-HA, harus menerapkan teknologi yang terbukti secara ilmiah tidak menimbulkan kerusakan terhadap lingkungan bernilai penting atau bernilai konservasi tinggi.
3 Aktivitas ilegal umumnya didalangi oleh pihak ketiga sebagai pemilik modal, baik pembalakan liar maupun perambahan kawasan hutan. Isu aktivitas ilegal merupakan permasalahan utama pada kondisi dimana lemahnya penegakan hukum dan pengendalian pada tingkat unit manajemen menyebabkan “karakteristik open access” pada sumberdaya alam yang ada. Seluruh bentuk aktivitas ilegal perlu dikendalikan untuk mewujudkan pengelolaan Semenanjung Kampar secara berkelanjutan.

Secara garis besar arahan pengelolaan kolaboratif Semenanjung Kampar disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Arahan pengelolaan kolaboratif Semenanjung Kampar
No. ZONA Peruntukan Utama Urutan Penerima Manfaat

1. Zona (Kawasan) Konservasi • Perlindungan Sistem Penyangga Kehidupan • Pelestarian Keanekaragaman Hayati • Pemanfaatan Ikan dan Sumberdaya Perairan 1. Publik 2. Masyarakat Lokal
2. Zona (Kawasan) • Perlindungan Sistem Penyangga 1. Masyarakat Lokal
Lindung Gambut Kehidupan 2. Swasta
(Sekarang masih • Pelestarian Keanekaragaman Hayati 3. Publik
dibebani ijin • Pemanfaatan Jasa Lingkungan (Karbon,
IUPHHK-HA) PES, ekowisata)
• Pemanfaatan NTFP secara lestari
• Pemanfaatan Ikan dan sumberdaya
perairan secara lestari
3. Zona (Kawasan) • Perlindungan Hutan Bernilai konservasi 1. Masyarakat Lokal
Lindung di Areal Tinggi 2. Swasta
HTI • Sistem penyangga tata air ekosistem 3. Publik
gambut
• Pemanfaatan Jasa Lingkungan (Karbon,
PES, ekowisata)
• Pemanfaatan NTFP secara lestari
• Pemanfaatan Ikan dan sumberdaya
perairan secara lestari

4. Zona Hutan • Pemanfaatan Kayu Serat secara lestari 1. Swasta
Tanaman • Tanaman Kehidupan untuk masyarakat 2. Masyarakat Lokal
lokal 3. Publik
• Pemanfaatan Ikan dan sumberdaya
perairan secara lestari
• Pelestarian Spesies tertentu
5. Zona Kelola • Pemanfaatan Sumberdaya Alam dan 1. Masyarakat Lokal
Masyarakat lahan secara lestari oleh masyarakat 2. Publik
• Pelestarian spesies tertentu

2.5. Kesimpulan dan Rekomendasi
Berdasarkan hasil penilaian dapat ditarik beberapa kesimpulan penting berikut:
1 Semenanjung Kampar memiliki hampir seluruh atribut NKT, kecuali NKT 6. Keseluruhan atribut NKT yang terdapat di Semenanjung Kampar saling tumpang tindih letaknya dan dapat digunakan sebagai informasi dasar dalam pengelolaannya secara kolaboratif.
2 Seluruh atribut NKT di Semenanjung Kampar juga ditemukan di Resort Teluk Meranti dan Tasik Belat. Isu kritis pengelolaan HNKT di kedua resort tersebut terutama terfokus pada NKT 1.2 dan NKT 5.
3. Berdasarkan simulasi dampak terhadap subsiden tanah gambut terhadap areal seluas
398.000 ha, diketahui bahwa dalam jangka panjang (lebih dari 60 tahun), pembangunan hutan tanaman di Kampar Ring, termasuk Resort Teluk Meranti dan Tasik Belat, diikuti dengan penerapan eco-hydro buffer dan mitigasi dampak negatif lebih baik dibandingkan dengan moratorium pembangunan hutan tanaman.
3 Pengelolaan Ekosistem Hutan Gambut di Semenanjung Kampar secara lestari perlu diikuti dengan komitmen Pemerintah untuk menetapkan kawasan kawasan lindung gambut atau wilayah NKT 4.1. dan membebaskannya dari segala bentuk pemanfaatan sumberdaya alam yang merusak, kecuali pemanfaatan yang didasarkan atas potensi sumberdaya perikanan, hasil hutan nir kayu, ekowisata dan jasa lingkungan lainnya.
5. Pembangunan hutan tanaman di Resort Teluk Meranti dan Tasik Belat dapat diteruskan sepanjang terdapat komitmen yang kuat dari Unit Manajemen untuk:
a. Mewujudkan pengelolaan hutan tanaman lestari yang dapat dibuktikan dengan sertifikat PHL di seluruh Semenanjung Kampar.
b. Menerapkan eco-hydro buffer secara ketat di lapangan, diikuti dengan pemantauan muka air tanah di sepanjang batas kawasan lindung gambut.
c. Melakukan pengelolaan habitat bagi mangsa Harimau Sumatera, diikuti dengan pemantauan populasinya, serta mendesiminasikan hasilnya secara periodik kepada publik.
d. Menegosiasikan penetapan ruang kelola masyarakat berdasarkan NKT 5 dan pemenuhan prinsip padiatapa (FPIC), diikuti dengan program pemberdayaan masyarakat yang mampu mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.
6. Pengelolaan Kolaboratif Semenanjung Kampar merupakan keharusan mengingat kawasan tersebut merupakan kesatuan ekosistem hutan gambut. Dalam konteks ini prinsip yang harus diadopsi adalah:
a. Kawasan Lindung Gambut dan Kawasan Konservasi sebagai perajut semua kepentingan dan dikelola bersama secara bertanggung-gugat. Dalam kawasan ini pemanfaatan yang dilakukan berbasis pada jasa lingkungan (ekowisata, karbon, air), sumberdaya perairan dan hasil hutan nir kayu.
b. Semua pelaku pembangunan bersedia untuk menerapkan adi-praktis (Best Practices), baik pemerintah, swasta, masyarakat dan LSM, khususnya dalam pengelolaan tata air.
c. Semua pelaku pembangunan bersedia mematuhi peraturan dan kesepakatan.
d. Kelembagaan kolaboratif PSK dikembangkan secara partisipatif dengan mempertimbangkan interaksi antar aktor yang saat ini terjadi. Langkah kunci pengelolaan kolaboratif dimulai antara swasta dengan masyarakat dan didukung secara penuh oleh seluruh unsur pemerintahan. Berbagai pihak lain dapat dilibatkan dalam pengelolaan kolaboratif tersebut guna menguatkan kapasitas pengelolaan.
4 Pengelolaan kolaboratif Semenanjung Kampar dilakukan melalui zonasi yang mencakup 5 zona utama, yaitu: (1) Zona Kawasan Konservasi; (2) Zona Kawasan Lindung Gambut;

(3) Zona Kawasan Lindung dalam Kawasan Budidaya; (4) Zona Hutan Tanaman; dan (5) Zona Kelola Masyarakat. Dalam pengelolaan seluruh zona tersebut, masyarakat lokal harus menjadi penerima manfaat yang dipertimbangkan oleh para pihak.
Berdasarkan hasil kajian yang telah dilakukan, beberapa rekomendasi untuk berbagai pihak disajikan sebagai berikut:
2.5.1. Rekomendasi Untuk Pemerintah
a. Menetapkan kebijakan pengelolaan Semenanjung Kampar secara kolaboratif dalam rangka pembangunan wilayah berbasis pengelolaan ekosistem hutan gambut lestari.
b. Mendorong para pihak untuk mewujudkan pengelolaan ekosistem gambut di Semenanjung Kampar secara holistik dan berkelanjutan dengan mempertimbangkan seluruh kepentingan para pihak, tanpa mengasikan pembangunan sektor riil pembangunan kehutanan.
c. Menetapkan kawasan lindung gambut sesuai hasil penilaian HNKT dan mengendalikannya dari seluruh kegiatan yang dapat merusak daya dukung kawasan dari sisi tata air dan HNKT yang telah diidentifikasi untuk seluruh Semenanjung Kampar.
d. Mengembangkan lembaga kolaboratif Pengelolaan Semenanjung Kampar dalam kerangka pembangunan wilayah secara berkelanjutan. Opsi kelembagaan yang dapat ditempuh adalah: (1) Membangun Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Model Kolaboratif; (2) Menyerahkan pembangunan lembaga kolaboratif kepada aktor kunci pembangunan di Semenanjung Kampar.
e. Memantau dan mengevaluasi secara ketat Pengelolaan Hutan Tanaman berdasarkan kriteria dan indikator pengelolaan hutan tanaman lestari, termasuk penerapan eco-hydro buffer oleh seluruh pelaku pembangunan di Semenanjung Kampar.

2.5.2. Rekomendasi Untuk PT. RAPP
a. Menerapkan eco-hydro buffer pada seluruh areal hutan tanaman yang dikelola, termasuk di Resort Teluk Meranti dan Tasik Belat.
b. Menyusun program pengelolaan habitat Harimau Sumatera di seluruh areal hutan tanaman yang dikelola, termasuk di Resort Teluk Meranti dan Tasik Belat.
c. Menegosiasikan penetapan ruang kelola masyarakat berdasarkan prinsip padiatapa (FPIC) dan menyusun program pemberdayaan masyarakat yang berbasis pada potensi sumberdaya alam di Semenanjung Kampar dan modal sosial yang ada.
d. Mewujudkan pengelolaan hutan tanaman lestari yang dapat dibuktikan dengan sertifikat PHTL.

2.5.3. Rekomendasi Untuk Pihak Lain
a. Mendukung pengelolaan Semenanjung Kampar secara kolaboratif dengan
berperan aktif dalam perencanaan, implementasi adi praktis, monitoring dan
evaluasi, penelitian dan pendampingan masyarakat.
b. Mengendalikan seluruh aktivitas yang dapat mengancam daya dukung
Semenanjung Kampar, termasuk seluruh aktivitas illegal dan aktivitas di luar
kesepakatan.

LAMPIRAN 1. Matriks NKT Semenanjung Kampar.
LAMPIRAN 2. Peta-Peta NKT Semenanjung kampar.
LAMPIRAN 3. Peta Overlay NKT.
LAMPIRAN 4. Matriks NKT Teluk Meranti dan Tasik Belat.
LAMPIRAN 5. Peta-Peta NKT Teluk Meranti dan Tasik Belat.

Lampiran 5b. Peta NKT Tasik Belat.pdf

Public Summary-final.pdf

Lampiran 1. Matrik NKT Total Semenanjuung Kampar.pdf

Lampiran 2. Peta NKT Semenanjung Kampar.pdf

Lampiran 4a. Matrix Teluk Meranti.pdf

Lampiran 4b. Matrix Tasik Belat.pdf

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: